How do you feel about evacuation drill on high rise building?

1.In your opinion, could you tell me what you think of evacuation drill on high rise building?
2.Have you ever joined it?
3.How do you feel about it?
4.What have made it important / less important to join evacuation drill?
5.What do you want to change about evacuation drill?
6.What is your suggestions?
7.If you heard about an evacuation drill is scheduled two days ahead in your office (high building), what will you do? and why?

No wrong and false answers. Thanks so much for sharing your thoughts!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Cara Evakuasi di gedung bertingkat berdasarkan jenis keadaan daruratnya.

Menurutku, evakuasi di gedung bertingkat adalah penting. Alasannya sederhana: untuk menyelamatkan jiwa dengan aman. Supaya bisa melakukan evakuasi dengan aman, maka diperlukan latihan tanggap darurat gedung (sering disebut latihan evakuasi). Latihan ini selalu dikondisikan mendekati keadaan darurat yang sebenarnya. Tujuannyaadalah untuk meningkatkan ketenangan ketika melakukan proses evakuasi pada saat kejadian yang sebenarnya, misalnya kejadian gempa bumi, atau kebakaran. Selain itu, kita menjadi lebih peduli dan sadar akan pentingnya kondisi tempat kerja, dan sekitar tempat kerja serta perilaku kerja yang aman, yang membuat kita dapat bekerja dengan aman (selamat) dan nyaman. Berikut saya bagikan cara evakuasi di gedung bertingkat berdasarkan jenis keadaan daruratnya, dan sedikit tips evakuasi yang tidak kalah penting. Cara ini praktis digunakan saat latihan evakuasi, dan termasuk best practice mereka yang bekerja khususnya di industri migas dan berkantor di gedung bertingkat. Sumbernya dari prosedur evakuasi di gedung bertingkat yang telah dikembangkan dan safety briefing.

CARA EVAKUASI DI GEDUNG BERTINGKAT

KEADAAN DARURAT: KEBAKARAN. Ditandai dengan bunyi alarm, dan pengumuman dari Gedung mengenai keadaan darurat kebakaran. Yang dilakukan adalah:

1. TETAP TENANG. Semakin kita tenang, semakin kita bisa berpikir dan tanggap. Mengikuti latihan tanggap darurat di tempat kerja masing-masing atau di fasilitas publik lainnya (atau bahkan di rumah), bisa membuat kita semakin tenang dan tahu apa yang harus dilakukan.

2. PADAMKAN API BILA TERLATIH. Bila melihat api, segera beritahu orang terdekat di sekitar anda. Dan apabila anda terlatih menggunakan alat pemadam api ringan (APAR), maka raihlah APAR terdekat dan padamkan api tersebut. Mintalah orang lain yang terdekat dengan anda untuk menghubungi petugas sekuriti atau petugas tanggap darurat ketika anda memadamkan api. Bila tidak terlatih, segera beritahu orang terdekat di sekitar anda dan menjauhlah dari sumber api. Orang terdekat (yang terlatih), petugas sekuriti ataupun petugas tanggap darurat akan memadamkan api tersebut.

3. BERKUMPUL DI AREA LOBI LIFT LANTAI, dan tetaplah tenang.

4. TIDAK MENGGUNAKAN LIFT. Meskipun berkumpul di area lobi lift, anda DILARANG menggunakan lift. Perilaku berisiko apabila masih menggunakan lift saat kebakaran, saat gempa, atau saat gedung belum menyatakan lift aman untuk digunakan! Di gedung yang mengikuti standar keselamatan gedung bertingkat, lift orang tidak dioperasikan pada saat keadaan darurat. Lift barang –karena peruntukannya untuk barang–punya disain teknis yang lebih kuat. Saat keadaan darurat, hanya digunakan untuk mengevakuasi mereka yang mengalami gangguan kesehatan, ditemani oleh petugas evakuasi gedung dan lantai. Penggunaan lift barang berada di bawah pengawasan penuh tim tanggap darurat dari Gedung.

5. IKUTI PETUNJUK PETUGAS TANGGAP DARURAT. Nah, anda beruntung apabila saat keadaan darurat, ada petugas tanggap darurat lantai yang membimbing anda. Umumnya, mereka memakai rompi warna merah, hijau, atau band-aid berwarna di lengannya. Sangat mudah untuk dikenali dan dimintai bantuan. Petugas tidak akan mengijinkan kita untuk meninggalkan barisan di lobi lift sampai instruksi itu diberikan. Saat itu, petugas dan komandannya menunggu instruksi dari Gedung –apakah dilakukan evakuasi atau tetap di tempat.

6. EVAKUASI LEWAT TANGGA DARURAT. Pola barisan mengikuti besar ruangan tangga darurat, ada yang berbaris 2-2, ada yang cukup satu barisan. Ikuti saja instruksi Komandan tanggap darurat (floor warden). Pekerja/tamu perempuan di barisan paling depan, diikuti oleh pekerja laki-laki. Di barisan paling depan, ada petugas pemadam api (fire warden/fire suppressor) dan petugas kesehatan (first aider). Di barisan paling belakang, juga ada kedua petugas tersebut, plus Komandan petugas. Selama berbaris, TETAP TENANG.

7. BERJALAN TERTIB, TIDAK BERLARI. Ketika menuruni tangga darurat, berjalanlah menuruni tangga darurat dengan tertib, cepat, tapi tidak berlari. Perilaku anda yang tergesa-gesa, berteriak-teriak, dan menyusul orang di depan anda, dapat membuat panik orang lain. Yang dapat terjadi adalah tercipta kerumunan masal bergerak sangat cepat, yang saling berebut menuruni tangga darurat, saling mendorong, lalu ada yang terjatuh, lemas, dan terinjak-injak. Korban yang tercatat adalah sebagian besar berasal dari korban dari tangga darurat yang terinjak-injak dan lemas. Maka dari itu,  TETAPLAH DI DALAM BARISAN, DAN IKUTI PETUGAS TANGGAP DARURAT.

8. BERJALAN MENUJU MUSTER POINT (TEMPAT BERKUMPUL). Ikuti saja orang yang berjalan di depan anda. dan petugas tanggap darurat. Tetaplah dalam barisan.

9. LAPORKAN DIRI ANDA PADA SAAT PENGHITUNGAN ORANG (HEAD COUNT). Petugas akan mengabsen nama-nama orang yang turun bersamanya. Gunanya adalah untuk memastikan tidak ada orang-orang yang tertinggal di gedung.

10.TETAP DI MUSTER POINT. Di muster point, petugas tanggap darurat menunggu instruksi dari petugas Gedung apakah Gedung telah aman atau masih berbahaya untuk dimasuki. Apabila dinyatakan telah aman, petugas akan mempersilahkan anda untuk kembali ke gedung.

PENTING:

  • Di dalam proses evakuasi di atas, apabila mengalami gangguan kesehatan (keringat dingin, sesak napas, pusing, sakit kepala, mual, muntah), maka pisahkan diri dari barisan dan TENANGKAN DIRI ANDA. Panggillah petugas first aider atau orang terdekat di sekitar anda. Petugas first aider akan menenangkan anda. Anda tidak akan ditinggal oleh petugas.
  • Bila menemukan ada orang yang pingsan, segera panggil petugas first aider atau petugas tanggap darurat lainnya. Ketiga petugas (first aider, fire suppressor, floor warden) memiliki keterampilan memadamkan api dan memberikan first aid. Namun, apabila anda terlatih untuk menolong orang yang pingsan, maka lakukan pertolongan pertama dan tetaplah tenang. Minta orang terdekat di sekitar anda untuk memanggil petugas tanggap darurat.
  • Hindari membawa barang-barang yang bisa menghambat proses evakuasi diri anda DAN diri orang lain. Prioritas utama adalah jiwa, bukan materi. Di dalam proses evakuasi, kita diharapkan sekali untuk saling menjaga ketenangan dan membuat tenang orang lain. Bawaan barang yang besar bisa membuat orang lain tidak tenang karena proses menuruni tangga darurat menjadi lebih lama, belum lagi risiko tertimpa barang itu (bila barang tiba-tiba jatuh).

KEADAAN DARURAT: GEMPA. Pada saat gempa: pengalaman saya, alarm tidak langsung dibunyikan karena siapa yang tahu bakal ada gempa? akan tetapi, alarm akan berbunyi secepatnya, disusul dengan pengumuman dari pihak gedung melalui pagging address yang menyatakan keadaan darurat karena gempa.  Yang dilakukan:

1. TETAP TENANG. Ketika merasakan gempa atau ada orang yang meneriakkan gempa, tetaplah tenang. Hal ini juga berlaku ketika anda mendengar bunyi alarm dan pengumuman dari pagging address bahwa sedang terjadi gempa.

2. SEGERA BERLINDUNG di bawah benda yang kokoh, atau di samping dinding yang tidak ada benda tergantung. duduk di lantai, dan menundukkan kepala ke arah lutut, lalu lindungi bagian belakang kepala dengan kedua tangan (posisi meringkuk).

3. JAUHI BENDA YANG BISA PECAH ATAU JATUH MENIMPA. Bila sedang ada di meja kerja, menjauhlah dari kaca, jendela, lemari, pajangan dan benda lain yang dapat jatuh dan menimpa kita. Tempat berlindung juga harus tetap diperhatikan, misalnya di bawah meja kerja, di dinding koridor yang bebas dari kaca atau benda-benda yang mudah jatuh menimpa.

4. PINDAH & BERLINDUNG di dinding pada area gedung yang kokoh (area lobi lift). Apabila memungkinkan untuk pindah ke area lobi lift lantai anda setelah goncangan selesai, pindahlah ke area lobi lift, dan jauhi kemungkinan kejatuhan lampu atau benda-benda yang digantung/pajangan. Saat goncangan kembali terjadi, lakukan kembali posisi berlindung.

5.TIDAK MENGGUNAKAN LIFT. Meskipun berkumpul di area lobi lift, anda DILARANG menggunakan lift. Perilaku berisiko apabila masih menggunakan lift saat gempa atau saat Gedung belum menyatakan lift aman untuk digunakan!

6. IKUTI PETUNJUK PETUGAS TANGGAP DARURAT. Petugas tidak akan mengijinkan kita untuk meninggalkan area  lobi lift lantai sampai instruksi itu diberikan. Saat itu, petugas dan komandannya (termasuk petugas sekuriti) menunggu instruksi dari Gedung yang diumumkan lewat pagging address–apakah dilakukan evakuasi atau tetap di tempat.

Apabila Gedung meminta anda untuk melakukan evakuasi, maka ikuti instruksi Petugas Tanggap darurat di lantai tempat anda berada. TETAPLAH TENANG.

PENTING: APABILA MELIHAT ATAU MENCIUM ASAP DI KORIDOR: beritahu petugas dan tutup hidung dan mulut anda dengan sapu tangan atau tissue basah, atau jauhi asap.

KEADAAN DARURAT: ANCAMAN BOM. Ancaman bom dapat berupa bingkisan, surat/email, dan telpon. Apabila menerima bingkisan asing yang tidak dikenal atau email yang berisi ancaman bom, segera beritahukan petugas sekuriti di lantai anda. Apabila menerima telpon berisi ancaman bom, yang dilakukan adalah:

1. TETAP TENANG.

2. BERTANYALAH PADA PENELPON DAN CATATLAH INFORMASINYA, seperti letak bom, jenis bom, bom ditujukan pada siapa,  apa permintaan penelpon. Tetaplah tenang.

3. KENALI SUARA PENELPON DAN SUARA LATAR, DAN CATATLAH. Kenali suara penelpon mulai dari jenis suara (berat, besar, kecil), suara laki-laki atau wanita, logat atau dialek penelpon, bahasa yang digunakan. Suara latar adalah suara yang terdengar dari telpon selain suara penelpon, misalnya suara bising, orang-orang, kereta api, kendaraan, mesin, air, atau bahkan apabila suaranya tidak terdengar (kondisi latar tenang).

4. BERITAHUKAN KEPADA PETUGAS SEKURITI, mengenai informasi yang anda peroleh dan catat, dan tetaplah tenang. Petugas Sekuriti akan melakukan tindakan lanjutan atas laporan anda.

5. APABILA DIMINTA UNTUK EVAKUASI OLEH PETUGAS SEKURITI ATAU TANGGAP DARURAT, TETAPLAH TENANG dan ikuti instruksinya.

Tips:

  • Dalam keadaan normal, petugas tanggap darurat tetap dapat dihubungi sewaktu-waktu untuk melaporkan kondisi kesehatan anda.
  • Cara membedakan keadaan darurat dan latihan: setelah alarm berbunyi, dengarkan pengumuman dari Gedung. Apabila anda mendengar kata-kata “latihan-latihan” atau “exercise-exercise”, maka kondisi tersebut adalah latihan tanggap darurat, dan anda wajib mengikutinya. Apabila anda tidak mendengar salah satu kata-kata tersebut, maka alarm tersebut menandakan keadaan darurat yang sesungguhnya, dan anda wajib untuk mengikuti instruksi dari petugas tanggap darurat.
  • Seperti kata pepatah”sedia payung sebelum hujan”, sediakan selalu tas pinggang atau tas kecil untuk menyimpan dompet, ponsel, saputangan/tissue, dan kaus kaki yang alasnya tidak licin (bila pakaian yang dikenakan tidak memiliki kantong) dan bawalah kemana saja anda pergi. Ketika keadaan darurat diumumkan oleh Gedung, anda tinggal membawa tas kecil anda dan pergi menuju lobi area untuk persiapan evakuasi. saputangan atau tissue dapat digunakan untuk menutup hidung dan mulut anda ketika anda mencium asap atau mengalami mual, atau menekan dan menutup luka terbuka pada anggota tubuh anda atau orang di sekitar anda yang terluka. Bagi pekerja wanita, kaus kaki yang alas kakinya tidak licin dapat dipakai ketika anda yang masih memakai sepatu hak tinggi diminta untuk menuruni gedung melalui tangga darurat pada saat kondisi darurat terjadi.
  • Apabila bekerja di gedung bertingkat, maka sedia sepatu kets di meja kerja masing-masing, minimal sendal yang tidak licin atau sepatu yang haknya pendek dari karet atau yang tanpa hak dan alasnya tidak keras (lentur). Ketika keadaan darurat diumumkan, anda tinggal menukar alas kaki anda dengan sepatu atau sendal tersebut.

Selamat mengikuti latihan evakuasi, dan selamat memiliki tingkat kesadaran keselamatan gedung yang lebih baik.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Leave the past, Walk for the future

Taka menatap gadis di depannya. Gadis itu berbalas menatapnya. Lalu mereka berargumen. “Keras kepala!”, seru Taka. Ran balas meneriakinya,”kepala batu!”. Mereka pun tertawa bersama. Seperti itulah hubungan persahabatan Taka dan Ran. Ada kalanya mereka kompak sekali, ada kalanya diskusi berujung pada argumen yang hangat, bahkan saling mendiamkan. Namun adakalanya berujung dengan tertawa seperti ini.

Hubungan persahabatan bermula ketika mereka berpisah sekolah lanjutan tingkat atas. Yang semula saling mengejek, kini saling menyayangi. Jarak sekolah yang jauh, dan padatnya kegiatan sekolah membuat pertemuan mereka semakin jarang sampai tiba mereka di bangku perguruan tinggi. Uniknya, mereka baru bertemu kembali setelah masing-masing duduk di tingka akhir!

Keduanya saling sayang. rasa cinta mulai dirasakan masing-masing. Ran mulai kehilangan arah setiap kali Taka mendadak pergi tanpa kabar selama berminggu-minggu. Di saat yang sama, Taka merasa gundah setiap kali menginginkan hubungan ini ke arah yang lebih dalam bersama Ran. Ia selalu urung mengungkapkan hatinya ketika Ran siap mendengarnya. Kejadian ini berulang kali terjadi.

Suatu ketika, Ran bertemu dengan Taka tanpa sengaja di taman kampus. Taka sengaja menunggunya di sana. Ia mengajak Ran berbicara. Ran kaget karena Taka telah menikah. Bahkan gadis yang dinikahinya adalah teman satu kampus Ran. Ran sadar, bahwa ini adalah takdir. Ia tegar. Untuk beberapa waktu, mereka rutin bertemu. Tapi keduanya sudah disibukkan dengan aktivitas kampus. Mereka baru bertemu setelah Ran telah bekerja selama hampir dua tahun. Taka pun tengah meneruskan pendidikannya.

Taka butuh berdiskusi. Ran mendengarkan. Ternyata, Taka curhat tentang hatinya terhadap Ran. Baru sekarang Taka mengungkapkan semuanya. Taka menyesali dirinya yang tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Ran. Cintanya pada Ran sudah bersemi sejak mereka SMA. Mentalnya selalu jatuh setiap kali akan mengungkapkan cintanya pada Ran. Ran is a perfect girl. Tapi mental Taka tidak siap untuk membawa dirinya maju mendampingi Ran. Semangatnya bahkan surut ketika di hari wisuda Ran, Ayah Ran mengajaknya berbicara tentang pekerjaan. Cintanya pada Ran masih bersemi, bahkan di saat ia telah memiliki dua orang anak. Ia menginginkan Ran, meskipun cintanya kini terlarang.

Ran mendengarkan sepenuh hati. Semua yang ia dengarkan seperti menggambarkan perasaannya sewaktu ia menangis sendiri di kamarnya karena Taka pergi tanpa kabar.

Kini, giliran Taka yang mendengarkan. Ran menceritakan perasaannya bagaimana ia ditengah kegamangan ketika tidak ada kabar dari Taka. Ran berusaha berpikir positif bahwa ini adalah jawaban dari usahanya. Bahwa ia dan Taka tidak ditakdirkan bersatu di luar hubungan persahabatan mereka. Ran dengan bijak mengatakan,”apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarkanlah seperti itu. I gave my love for you in the past. Sekarang, kita berjalan untuk masa depan kita masing-masing”.  Taka kagum atas ketegaran Ran. Ia meminta maaf berulang kali karena ia telah bersalah pada Ran. Tapi , Taka menginginkan Ran, cinta pertamanya. Ia terus mendesak Ran. Ran menolaknya dengan halus. Ran malah sering menitip salam kepada Mimi, istri Taka. Ia membelikan hadiah untuk temannya itu.

Taka terus berusaha. Ia mengunjungi Ran di apartemen mungilnya hampir setiap hari. Ran merasa terganggu. Menurut Ran, kunjungan Taka bukan sebagai sahabat, tapi lebih pada kunjungan kekasih. Ia berulang kali mengusir Taka untuk cepat pulang ketika sudah larut malam. Tapi Taka keras kepala. Taka berusaha memperjuangkan cintanya pada Ran, cinta yang dulu sempat terkubur. Di tengah-tengah kunjugannya ini, Taka curhat mengenai rumah tangganya. Ia berniat menceraikan Mimi. Ran mengatakan bahwa sudah menjadi tanggung jawab Taka untuk mendidik Mimi, tapi bukan dengan menceraikannya. Anak-anak akan menjadi korban. Ran menganggap alasan Taka terlalu dangkal untuk menceraikan Mimi.

Ran pindah apartemen, dan menolak untuk bertemu di apartemennya. Ia sengaja menentukan tempat bertemu yaitu di kantin kantor agar Taka menolak. Strateginya berhasil. Melalui email, Ran mengungkapkan rasa prihatinnya pada kedua orang yang ia sayangi itu. Ia pun mengungkapkan harapannya pada keharmonisan rumah tangga mereka berdua. Lalu Ran menarik diri.

Suatu sore, setahun setelah Ran mengirim email itu, Ran mengecek inboxnya. Ia mendapati Taka membalas surat itu. Isinya terdengar bijak. Ran berharap Taka sudah berubah. Beberapa hari kemudian, Mimi menghubunginya. Mereka pun bertemu. Mimi terlihat lebih kurus, mata mencekung dan kulit memucat. Ran mengajaknya pergi ke sebuah salon langganannya. Mimi butuh penyegaran. Dan benar saja, setelah selesai perawatan, Mimi terlihat lebih segar.

Mimi curhat pada Ran tentang Taka. Ran sedih mendengar Taka masih mencari istri lain. Ran tidak bisa membayangkan betapa besar penderitaan Mimi yang kini duduk di depannya. Mimi malah memintanya untuk menikahi Taka. Sambil menekan rasa marahnya pada Taka, Ran menolak tawaran Mimi karena ia bukan tipe wanita seperti itu. Masalah rumah tangga bukan diselesaikan dengan cara seperti ini. Ran meminta Mimi berbicara dengan anggota keluarga Taka yang disegani keluarga itu. Ketika bertemu dengan Taka yang datang menjemput Mimi, Ran memuji Mimi dan meminta Taka untuk membawanya ke Salon lagi.

Ran benar-benar menarik diri dari keduanya. Ia tidak boleh berpihak kepada salah satu dari kedua sahabatnya itu. Lagipula, menurut Ran, ia bukanlah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan untuk masalah rumah tangga. Ia sendiri belum berkeluarga.

Beberapa hari ini, Taka mengirim sms dan menghubunginya. Tapi Ran memilih untuk mendiamkannya. Ran lebih suka hubungan persahabatannya bubar daripada ia menambah runyam kondisi rumah tangga diantara kedua orang sahabatnya itu. Taka meminta maaf karena telah mengganggu Ran. Ia menganggap dirinya seperti kotoran dalam hidup Ran. Ran hanya menarik nafas. “hanya kamu yang menganggap dirimu seperti itu, Taka”, ujar Ran. Ia segera menghapus sms Taka dari inbox ponselnya.

Shinamon, Agustus 2010

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

cerita tentang cinta

Perkenalan mengawali pertemanan. Aku dan dia. Dia dan aku. Persahabatan terjalin setelahnya. Jarak yang memisahkan kami berdua justru menyuburkan komunikasi kami. Dan cinta, bersemi di hatinya sampai akhirnya kami bertemu kembali.

Seharusnya komunikasi kami mengalir seperti yang sudah-sudah. Nyatanya, kikuk. Seperti waktu pertamakali berkenalan. Tapi suasana cepat mencair di tengah-tengah obrolan ringan bersama sahabat-sahabat yang lain. Ia bertemu dengan keluargaku untuk kedua kalinya.

Tidak lama, kami berpisah kembali, hampir setahun. Ia di Barat, aku di Timur. dan ponsel, email, menjadi media komunikasi kami kembali seperti yang sudah-sudah.

Sebelum kami berpisah hari itu, ia mengungkapkan perasaannya kepadaku kembali. Sebuah gambaran masa depan dirinya berdampingan denganku. Keinginan yang aku tidak segera menjawab. Aku hanya bisa bilang,”biar kukatakan pada Ayahku dulu”.

Aku terus memohon pada Tuhan, agar Ia memberikan aku petunjuk. Sementara itu, ia terus mengingatkan aku mengenai waktu, pernikahan, rencana masa depan. Dan aku hanya bisa bilang,”aku masih mencari waktu yang baik untuk berbicara dengan Ayah”. Ayah memang sibuk. Dan tentunya, aku perlu strategi untuk berbicara dengannya. Ibu juga menginginkan agar aku berbicara langsung dengan beliau, tentu dengan waktu yang tepat.

Suatu malam, akhirnya kami berbicara. Ayah dan anak. Cukup lama. Ayah bersikeras dengan alasan-alasannya, dan aku menyikapinya dengan pragmatis, bahkan realistis. Argumentasi kami saling beradu. Ibu menengahi.

Sebenarnya, ini bukanlah pembicaraan kami yang pertama. Malam itu adalah yang kedua kalinya aku berbicara dengan Ayah mengenai calon pendamping. Hanya saja pembicaraannya tidak sedalam malam itu.

Dan ending malam itu, membuat aku berencana untuk berbicara kembali dengan Ayah di lain waktu. Aku ingin memberinya waktu untuk memikirkan apa yang aku kemukakan.

Kesibukan membawa Ayah berminggu-minggu dinas. Selama itu pula, aku terus berbicara kepada sahabatku untuk mencari jalan keluar, dan berusaha memperjuangkan hubungan ini, membantunya untuk menunjukkan keseriusannya pada kedua orangtuaku. Ketika aku bertemu dengan dirinya kembali, aku hanya bilang agar ia bersabar. Aku membutuhkan dirinya untuk membantuku meyakinkan kedua orang tuaku-terutama Ayah-bahwa dirinya serius untuk mendampingiku.

Suatu ketika, Ibu mengirim sms. Ayah tidak merestui hubungan kami, dan ada kandidat lain yang menurutnya lebih baik. Hari itu, mendung bukan hanya milik langit yang sesekali mencurahkan hujan gerimis. Tapi juga jiwaku. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada dirinya, betapa aku telah menggantungkan jawaban atas keinginannya.

Pada pertemuan kami yang selanjutnya, aku mengatakannya dengan berat hati. Tapi ia tidak menangkap pesan itu… hatiku seperti lilin yang apinya bergoyang tertiup hembusan nafas pendek. Ke kanan dan ke kiri. Inikah calon pendampingku? Pantaskah ia? Pantaskah aku? Mampukah aku?

Sampai akhirnya, di pertemuan kami berikutnya, Ia menangkap maksud semua pernyataanku. Malam itu, aku mengungkapkan alasan Ayah, alasanku, dan meminta maaf. Aku bisa mendengar emosi di suaranya. Percakapan kami sempat memanas. Aku sampai meminta kesempatan untuk didengarkan seperti aku memberikan kesempatan untuk mendengarkan dirinya.

Di lain sisi, aku semakin menyadari kesan yang aku peroleh dari cara bagaimana ia menyikapi hal ini. Seperti inikah ia sebenarnya? Pantaskah aku memperjuangkannya?

Melihat dengan hati. Aku tidak memungkiri kalau aku juga menyayanginya, tapi malam itu, aku menyesali emosi tegang dari dirinya, dari ucapannya, dari nada suaranya. Aku harus menyadarkan dirinya.  Aku bilang, aku juga sedih. Dan hal ini bagian proses kedewasaan diri kita.

Ia menarik tanganku dan menjabatnya. Aku berusaha melepaskan telapak tanganku yang mendingin. Ia menatapku langsung, pandangannya terasa tajam. Aku kaget, takut, dan sedih. Inikah ia yang sebenarnya?

Pada akhirnya, ia menerima. Hubungan kami membaik. Perkenalan kami yang berusia setahun dalam persahabatan. Aku berusaha tegar, meskipun di awal-awal setelah peristiwa itu,  kadang rasa sedih datang dan membuatku bengong untuk beberapa saat, memikirkan peristiwa itu. Aku berusaha berbaik sangka pada Tuhan. Ia pasti punya rencana yang baik untuk diriku. Kalau kami jodoh, maka pasti dipersatukan. Ini hanya masalah waktu.

Orang-orang yang menyayangiku bertanya, lalu, bagaimana perasaanmu sendiri terhadap dirinya?

Aku sayang padanya. Kepintarannya mengagumkan. Yang aku butuhkan adalah seseorang yang lebih dewasa dari diriku karena aku butuh pemimpin, pembimbing, pelindung, dan pendamping. aku butuh seseroang yang bisa menjaga komitmen dan tanggung jawabnya dalam hubungan ini.  Beberapa kali aku mendapatkan kesan kalau aku yang lebih dalam hal ini. Tentu aku menyampaikan kesanku ini padanya, semua, untuk kebaikan dirinya.

Aku tidak bisa bilang cinta karena pertama kali aku merasakan cinta, malah meninggalkan kesedihan yang panjang. Mungkin aku satu-satunya anak yang begitu patuh pada orangtua sehingga cinta yang ditawarkan untuk diriku sendiri harus diputuskan melalui mereka.

Yang aku inginkan hanyalah kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku akan lengkap apabila kedua orangtuaku merestui pilihanku. Restu Tuhan mengikuti restu kedua orangtua. Mulanya, aku berpikir, alasan Ayah tidak rasional. Ibu lebih bijak, dan aku memahami alasan Ibu. Ketika melihat sikap sahabatku ini ketika kami membicarakan cinta ini, aku menjadi berpikir lebih dalam. aku mereflesikan sikapnya di masa depanku.

Rasa sayang pada dirinya ini sudah tumbuh dan bersemi, memupuk cinta yang mulai tumbuh. Tapi demi kebahagiaanku dan masa depanku sendiri, di mana aku akan hidup dengan dirinya, aku harus melihat dengan hatiku, bukan dengan cinta. Karena aku sayang padanya, maka aku harus memberikan kebaikan untuk dirinya. Aku menyudahi keinginan itu. Aku mengungkapkan alasanku.

Aku tentu sedih. Ini yang membuatku sering melamun di awal-awal setelah kami berbicara tentang keinginan ini untuk terakhir kalinya. Tapi aku lega, Tuhan telah memberikan petunjuknya. dan Tuhan tidak akan memberikan beban yang aku tidak sanggup menanggungnya. Rasa sedih ini adalah berkah dari Tuhan. Hal yang manusiawi. Apa yang dikatakan orang-orang bijak adalah benar, bahwa kedewasaan adalah penting dalam kehidupan berpasangan (keluarga). Dan inilah yang aku pertimbangkan ketika merefleksikan dirinya di masa depanku.

Aku senang, aku tidak buta karena cinta. Aku berhasil melihat dengan hati, dan bertindak dengan hati. Meskipun awalnya berat, sampai aku menggantungkan jawaban untuknya. Namun akhir dari hubungan ini menyenangkan. Happy ending. Kami menyikapinya dengan baik. Hubungan persahabatan terus berlanjut.  Rasa sedih di hati masih membekas, tapi ini lebih baik dibandingkan rasa sedih yang muncul belakangan – di kemudian hari – karena tidak mendengarkan hatiku sendiri, mendengarkan perasaan hatiku yang sebenarnya, dan mengungkapkannya. Rasa sedih yang aku rasakan sekarang tidak akan sepanjang rasa sedih yang aku akan rasakan karena mengabaikan hatiku sendiri. Dengan bersikap seperti ini, aku sebenarnya, sedang berjalan menuju kebahagianku. Menurutku, inilah yang juga penting dalam suatu hubungan.

Mungkin kedengarannya aneh. Aku seperti tidak memperjuangkan cintaku sendiri. Terlalu patuh pada orang tua. Dan aku tidak akan membela diri. Aku hanya ingin kasih sayang mendasari hubungan ini. Kasih sayang yang berbuah kebaikan tentunya. bukan kasih sayang yang menjebak.

Shinamon, Agustus 2010

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hello World!

Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada mencurahkan isi hati dan pandangan, ataupun pertanyaan melalui tindakan sederhana seperti berbicara, menulis, atau mengerahkan tenaga. Semua tindakan sederhana itu tetap memberi makna bagi diri sendiri, orang-orang terdekat, maupun lingkungan di sekitar kita. Lihatlah! Sebuah senyuman dapat membuat orang lain menjadi bahagia, ucapan terimakasih dapat membuat orang yang menerimanya merasa berharga, tulisan aku sayang mama dapat membuat orang yang menerimanya merasa diberkati. Semua dapat dilakukan meskipun kondisi fisik kurang mendukung.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar