cerita tentang cinta

Perkenalan mengawali pertemanan. Aku dan dia. Dia dan aku. Persahabatan terjalin setelahnya. Jarak yang memisahkan kami berdua justru menyuburkan komunikasi kami. Dan cinta, bersemi di hatinya sampai akhirnya kami bertemu kembali.

Seharusnya komunikasi kami mengalir seperti yang sudah-sudah. Nyatanya, kikuk. Seperti waktu pertamakali berkenalan. Tapi suasana cepat mencair di tengah-tengah obrolan ringan bersama sahabat-sahabat yang lain. Ia bertemu dengan keluargaku untuk kedua kalinya.

Tidak lama, kami berpisah kembali, hampir setahun. Ia di Barat, aku di Timur. dan ponsel, email, menjadi media komunikasi kami kembali seperti yang sudah-sudah.

Sebelum kami berpisah hari itu, ia mengungkapkan perasaannya kepadaku kembali. Sebuah gambaran masa depan dirinya berdampingan denganku. Keinginan yang aku tidak segera menjawab. Aku hanya bisa bilang,”biar kukatakan pada Ayahku dulu”.

Aku terus memohon pada Tuhan, agar Ia memberikan aku petunjuk. Sementara itu, ia terus mengingatkan aku mengenai waktu, pernikahan, rencana masa depan. Dan aku hanya bisa bilang,”aku masih mencari waktu yang baik untuk berbicara dengan Ayah”. Ayah memang sibuk. Dan tentunya, aku perlu strategi untuk berbicara dengannya. Ibu juga menginginkan agar aku berbicara langsung dengan beliau, tentu dengan waktu yang tepat.

Suatu malam, akhirnya kami berbicara. Ayah dan anak. Cukup lama. Ayah bersikeras dengan alasan-alasannya, dan aku menyikapinya dengan pragmatis, bahkan realistis. Argumentasi kami saling beradu. Ibu menengahi.

Sebenarnya, ini bukanlah pembicaraan kami yang pertama. Malam itu adalah yang kedua kalinya aku berbicara dengan Ayah mengenai calon pendamping. Hanya saja pembicaraannya tidak sedalam malam itu.

Dan ending malam itu, membuat aku berencana untuk berbicara kembali dengan Ayah di lain waktu. Aku ingin memberinya waktu untuk memikirkan apa yang aku kemukakan.

Kesibukan membawa Ayah berminggu-minggu dinas. Selama itu pula, aku terus berbicara kepada sahabatku untuk mencari jalan keluar, dan berusaha memperjuangkan hubungan ini, membantunya untuk menunjukkan keseriusannya pada kedua orangtuaku. Ketika aku bertemu dengan dirinya kembali, aku hanya bilang agar ia bersabar. Aku membutuhkan dirinya untuk membantuku meyakinkan kedua orang tuaku-terutama Ayah-bahwa dirinya serius untuk mendampingiku.

Suatu ketika, Ibu mengirim sms. Ayah tidak merestui hubungan kami, dan ada kandidat lain yang menurutnya lebih baik. Hari itu, mendung bukan hanya milik langit yang sesekali mencurahkan hujan gerimis. Tapi juga jiwaku. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada dirinya, betapa aku telah menggantungkan jawaban atas keinginannya.

Pada pertemuan kami yang selanjutnya, aku mengatakannya dengan berat hati. Tapi ia tidak menangkap pesan itu… hatiku seperti lilin yang apinya bergoyang tertiup hembusan nafas pendek. Ke kanan dan ke kiri. Inikah calon pendampingku? Pantaskah ia? Pantaskah aku? Mampukah aku?

Sampai akhirnya, di pertemuan kami berikutnya, Ia menangkap maksud semua pernyataanku. Malam itu, aku mengungkapkan alasan Ayah, alasanku, dan meminta maaf. Aku bisa mendengar emosi di suaranya. Percakapan kami sempat memanas. Aku sampai meminta kesempatan untuk didengarkan seperti aku memberikan kesempatan untuk mendengarkan dirinya.

Di lain sisi, aku semakin menyadari kesan yang aku peroleh dari cara bagaimana ia menyikapi hal ini. Seperti inikah ia sebenarnya? Pantaskah aku memperjuangkannya?

Melihat dengan hati. Aku tidak memungkiri kalau aku juga menyayanginya, tapi malam itu, aku menyesali emosi tegang dari dirinya, dari ucapannya, dari nada suaranya. Aku harus menyadarkan dirinya.  Aku bilang, aku juga sedih. Dan hal ini bagian proses kedewasaan diri kita.

Ia menarik tanganku dan menjabatnya. Aku berusaha melepaskan telapak tanganku yang mendingin. Ia menatapku langsung, pandangannya terasa tajam. Aku kaget, takut, dan sedih. Inikah ia yang sebenarnya?

Pada akhirnya, ia menerima. Hubungan kami membaik. Perkenalan kami yang berusia setahun dalam persahabatan. Aku berusaha tegar, meskipun di awal-awal setelah peristiwa itu,  kadang rasa sedih datang dan membuatku bengong untuk beberapa saat, memikirkan peristiwa itu. Aku berusaha berbaik sangka pada Tuhan. Ia pasti punya rencana yang baik untuk diriku. Kalau kami jodoh, maka pasti dipersatukan. Ini hanya masalah waktu.

Orang-orang yang menyayangiku bertanya, lalu, bagaimana perasaanmu sendiri terhadap dirinya?

Aku sayang padanya. Kepintarannya mengagumkan. Yang aku butuhkan adalah seseorang yang lebih dewasa dari diriku karena aku butuh pemimpin, pembimbing, pelindung, dan pendamping. aku butuh seseroang yang bisa menjaga komitmen dan tanggung jawabnya dalam hubungan ini.  Beberapa kali aku mendapatkan kesan kalau aku yang lebih dalam hal ini. Tentu aku menyampaikan kesanku ini padanya, semua, untuk kebaikan dirinya.

Aku tidak bisa bilang cinta karena pertama kali aku merasakan cinta, malah meninggalkan kesedihan yang panjang. Mungkin aku satu-satunya anak yang begitu patuh pada orangtua sehingga cinta yang ditawarkan untuk diriku sendiri harus diputuskan melalui mereka.

Yang aku inginkan hanyalah kebahagiaanku. Dan kebahagiaanku akan lengkap apabila kedua orangtuaku merestui pilihanku. Restu Tuhan mengikuti restu kedua orangtua. Mulanya, aku berpikir, alasan Ayah tidak rasional. Ibu lebih bijak, dan aku memahami alasan Ibu. Ketika melihat sikap sahabatku ini ketika kami membicarakan cinta ini, aku menjadi berpikir lebih dalam. aku mereflesikan sikapnya di masa depanku.

Rasa sayang pada dirinya ini sudah tumbuh dan bersemi, memupuk cinta yang mulai tumbuh. Tapi demi kebahagiaanku dan masa depanku sendiri, di mana aku akan hidup dengan dirinya, aku harus melihat dengan hatiku, bukan dengan cinta. Karena aku sayang padanya, maka aku harus memberikan kebaikan untuk dirinya. Aku menyudahi keinginan itu. Aku mengungkapkan alasanku.

Aku tentu sedih. Ini yang membuatku sering melamun di awal-awal setelah kami berbicara tentang keinginan ini untuk terakhir kalinya. Tapi aku lega, Tuhan telah memberikan petunjuknya. dan Tuhan tidak akan memberikan beban yang aku tidak sanggup menanggungnya. Rasa sedih ini adalah berkah dari Tuhan. Hal yang manusiawi. Apa yang dikatakan orang-orang bijak adalah benar, bahwa kedewasaan adalah penting dalam kehidupan berpasangan (keluarga). Dan inilah yang aku pertimbangkan ketika merefleksikan dirinya di masa depanku.

Aku senang, aku tidak buta karena cinta. Aku berhasil melihat dengan hati, dan bertindak dengan hati. Meskipun awalnya berat, sampai aku menggantungkan jawaban untuknya. Namun akhir dari hubungan ini menyenangkan. Happy ending. Kami menyikapinya dengan baik. Hubungan persahabatan terus berlanjut.  Rasa sedih di hati masih membekas, tapi ini lebih baik dibandingkan rasa sedih yang muncul belakangan – di kemudian hari – karena tidak mendengarkan hatiku sendiri, mendengarkan perasaan hatiku yang sebenarnya, dan mengungkapkannya. Rasa sedih yang aku rasakan sekarang tidak akan sepanjang rasa sedih yang aku akan rasakan karena mengabaikan hatiku sendiri. Dengan bersikap seperti ini, aku sebenarnya, sedang berjalan menuju kebahagianku. Menurutku, inilah yang juga penting dalam suatu hubungan.

Mungkin kedengarannya aneh. Aku seperti tidak memperjuangkan cintaku sendiri. Terlalu patuh pada orang tua. Dan aku tidak akan membela diri. Aku hanya ingin kasih sayang mendasari hubungan ini. Kasih sayang yang berbuah kebaikan tentunya. bukan kasih sayang yang menjebak.

Shinamon, Agustus 2010

Tentang shinamon

I write for happiness, sadness, changes, forgiveness, and awareness.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s