Leave the past, Walk for the future

Taka menatap gadis di depannya. Gadis itu berbalas menatapnya. Lalu mereka berargumen. “Keras kepala!”, seru Taka. Ran balas meneriakinya,”kepala batu!”. Mereka pun tertawa bersama. Seperti itulah hubungan persahabatan Taka dan Ran. Ada kalanya mereka kompak sekali, ada kalanya diskusi berujung pada argumen yang hangat, bahkan saling mendiamkan. Namun adakalanya berujung dengan tertawa seperti ini.

Hubungan persahabatan bermula ketika mereka berpisah sekolah lanjutan tingkat atas. Yang semula saling mengejek, kini saling menyayangi. Jarak sekolah yang jauh, dan padatnya kegiatan sekolah membuat pertemuan mereka semakin jarang sampai tiba mereka di bangku perguruan tinggi. Uniknya, mereka baru bertemu kembali setelah masing-masing duduk di tingka akhir!

Keduanya saling sayang. rasa cinta mulai dirasakan masing-masing. Ran mulai kehilangan arah setiap kali Taka mendadak pergi tanpa kabar selama berminggu-minggu. Di saat yang sama, Taka merasa gundah setiap kali menginginkan hubungan ini ke arah yang lebih dalam bersama Ran. Ia selalu urung mengungkapkan hatinya ketika Ran siap mendengarnya. Kejadian ini berulang kali terjadi.

Suatu ketika, Ran bertemu dengan Taka tanpa sengaja di taman kampus. Taka sengaja menunggunya di sana. Ia mengajak Ran berbicara. Ran kaget karena Taka telah menikah. Bahkan gadis yang dinikahinya adalah teman satu kampus Ran. Ran sadar, bahwa ini adalah takdir. Ia tegar. Untuk beberapa waktu, mereka rutin bertemu. Tapi keduanya sudah disibukkan dengan aktivitas kampus. Mereka baru bertemu setelah Ran telah bekerja selama hampir dua tahun. Taka pun tengah meneruskan pendidikannya.

Taka butuh berdiskusi. Ran mendengarkan. Ternyata, Taka curhat tentang hatinya terhadap Ran. Baru sekarang Taka mengungkapkan semuanya. Taka menyesali dirinya yang tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Ran. Cintanya pada Ran sudah bersemi sejak mereka SMA. Mentalnya selalu jatuh setiap kali akan mengungkapkan cintanya pada Ran. Ran is a perfect girl. Tapi mental Taka tidak siap untuk membawa dirinya maju mendampingi Ran. Semangatnya bahkan surut ketika di hari wisuda Ran, Ayah Ran mengajaknya berbicara tentang pekerjaan. Cintanya pada Ran masih bersemi, bahkan di saat ia telah memiliki dua orang anak. Ia menginginkan Ran, meskipun cintanya kini terlarang.

Ran mendengarkan sepenuh hati. Semua yang ia dengarkan seperti menggambarkan perasaannya sewaktu ia menangis sendiri di kamarnya karena Taka pergi tanpa kabar.

Kini, giliran Taka yang mendengarkan. Ran menceritakan perasaannya bagaimana ia ditengah kegamangan ketika tidak ada kabar dari Taka. Ran berusaha berpikir positif bahwa ini adalah jawaban dari usahanya. Bahwa ia dan Taka tidak ditakdirkan bersatu di luar hubungan persahabatan mereka. Ran dengan bijak mengatakan,”apa yang sudah terjadi di masa lalu, biarkanlah seperti itu. I gave my love for you in the past. Sekarang, kita berjalan untuk masa depan kita masing-masing”.  Taka kagum atas ketegaran Ran. Ia meminta maaf berulang kali karena ia telah bersalah pada Ran. Tapi , Taka menginginkan Ran, cinta pertamanya. Ia terus mendesak Ran. Ran menolaknya dengan halus. Ran malah sering menitip salam kepada Mimi, istri Taka. Ia membelikan hadiah untuk temannya itu.

Taka terus berusaha. Ia mengunjungi Ran di apartemen mungilnya hampir setiap hari. Ran merasa terganggu. Menurut Ran, kunjungan Taka bukan sebagai sahabat, tapi lebih pada kunjungan kekasih. Ia berulang kali mengusir Taka untuk cepat pulang ketika sudah larut malam. Tapi Taka keras kepala. Taka berusaha memperjuangkan cintanya pada Ran, cinta yang dulu sempat terkubur. Di tengah-tengah kunjugannya ini, Taka curhat mengenai rumah tangganya. Ia berniat menceraikan Mimi. Ran mengatakan bahwa sudah menjadi tanggung jawab Taka untuk mendidik Mimi, tapi bukan dengan menceraikannya. Anak-anak akan menjadi korban. Ran menganggap alasan Taka terlalu dangkal untuk menceraikan Mimi.

Ran pindah apartemen, dan menolak untuk bertemu di apartemennya. Ia sengaja menentukan tempat bertemu yaitu di kantin kantor agar Taka menolak. Strateginya berhasil. Melalui email, Ran mengungkapkan rasa prihatinnya pada kedua orang yang ia sayangi itu. Ia pun mengungkapkan harapannya pada keharmonisan rumah tangga mereka berdua. Lalu Ran menarik diri.

Suatu sore, setahun setelah Ran mengirim email itu, Ran mengecek inboxnya. Ia mendapati Taka membalas surat itu. Isinya terdengar bijak. Ran berharap Taka sudah berubah. Beberapa hari kemudian, Mimi menghubunginya. Mereka pun bertemu. Mimi terlihat lebih kurus, mata mencekung dan kulit memucat. Ran mengajaknya pergi ke sebuah salon langganannya. Mimi butuh penyegaran. Dan benar saja, setelah selesai perawatan, Mimi terlihat lebih segar.

Mimi curhat pada Ran tentang Taka. Ran sedih mendengar Taka masih mencari istri lain. Ran tidak bisa membayangkan betapa besar penderitaan Mimi yang kini duduk di depannya. Mimi malah memintanya untuk menikahi Taka. Sambil menekan rasa marahnya pada Taka, Ran menolak tawaran Mimi karena ia bukan tipe wanita seperti itu. Masalah rumah tangga bukan diselesaikan dengan cara seperti ini. Ran meminta Mimi berbicara dengan anggota keluarga Taka yang disegani keluarga itu. Ketika bertemu dengan Taka yang datang menjemput Mimi, Ran memuji Mimi dan meminta Taka untuk membawanya ke Salon lagi.

Ran benar-benar menarik diri dari keduanya. Ia tidak boleh berpihak kepada salah satu dari kedua sahabatnya itu. Lagipula, menurut Ran, ia bukanlah orang yang tepat untuk dimintai pertolongan untuk masalah rumah tangga. Ia sendiri belum berkeluarga.

Beberapa hari ini, Taka mengirim sms dan menghubunginya. Tapi Ran memilih untuk mendiamkannya. Ran lebih suka hubungan persahabatannya bubar daripada ia menambah runyam kondisi rumah tangga diantara kedua orang sahabatnya itu. Taka meminta maaf karena telah mengganggu Ran. Ia menganggap dirinya seperti kotoran dalam hidup Ran. Ran hanya menarik nafas. “hanya kamu yang menganggap dirimu seperti itu, Taka”, ujar Ran. Ia segera menghapus sms Taka dari inbox ponselnya.

Shinamon, Agustus 2010

Tentang shinamon

I write for happiness, sadness, changes, forgiveness, and awareness.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s