cerita luka yang tidak sakit

ada sebuah cerita. Aku mengunjungi seorang kawan yang tengah dirawat di Rumah Sakit. Ia mengalami luka di tungkai bawah kanannya yang tidak kunjung sembuh. Lukanya sempat mengecil, tetapi kemudian melebar lagi hingga sekarang. Anehnya, ia tidak merasakan sakit pada daerah kaki yang terluka. Menurut ceritanya, kawanku ini menderita sakit kencing manis atau diabetes mellitus, dan oleh dokter, ia diharuskan melakukan diet ketat untuk mencegah gula darah yang terlalu tinggi.

Apa ya, hubungan luka yang tidak kunjung sembuh dengan diabetes mellitus?

Secara singkat, menurut Sarafino yang menulis buku Health Psychology, kadar gula darah yang tinggi menyebabkan reaksi kimiawi yang merusak selubung mielin (suatu lapisan yang menyelubungi bagian syaraf yang mirip dengan lengan yang menjulur dari tubuh). Selubung mielin ini menyekat urat syaraf. Ketika gangguan ini terjadi pada peripheral fibers, misalnya di kaki, penderita akan merasa tidak terlalu sakit pada daerah yang terganggu/terluka. Luka yang tidak kunjung sembuh merupakan pertanda bahwa terjadi gangguan pada sistem syaraf peripheral. Salah satu penyebabnya adalah diabetes. Istilah kerennya, gangguan ini disebut juga neuropati diabetik (Sudoyo dkk, 2006:1924, “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”).

Menurut Subekti (2006, dalam “Neuropati Diabetik”, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam), hiperglikemia yang berkepanjangan, meningkatkan aktivitas jalur poliol, aktivasi protein kinase C (PKC), dan sintesis advance glycosilation end products (AGEs). Aktivitas jalur poliol meningkat, ditandai dengan enzim aldose-reduktase merubah glukosa menjadi sorbitol. Lalu, sorbitol dimetabolisasi oleh sorbitol dehidrogenase menjadi fruktosa. Akumulasi sorbital dan fruktosa di dalam sel syaraf menyebabkan keadaan hipertonik intraselular yang menyebabkan edem syaraf. Sel syaraf menjadi rusak (Subekti, 2006).

Peningkatan sintesis sorbitol menghambat mioinositol untuk masuk ke dalam sel syaraf. Penurunan mioinositol dan akumulasi sorbitol menimbulkan stress osmotik yang akan merusak mitokondria dan akan menstimulasi protein kinase C (PKC). Aktivasi PKC menekan fungsi Na-K-ATP-ase, sehingga kadar Na intraselular berlebihan. Akibatnya, mioinositol masuk ke dalam sel syaraf sehingga terjadi gangguan transduksi sinyal syaraf (Subekti, 2006).

Reaksi jalur Poliol menyebabkan turunnya persediaan NADPH syaraf yang merupakan kofaktor penting untuk glutathione dan nitric oside sintahesis (NOS). Pengurangan kofaktor membatasi kemampuan syaraf untuk mengurangi radikal bebas dan menurunkan produksi nitric acid (NO) (Subekti, 2006).

Hiperglikemia yang berkepanjangan juga menyebabkan  terbentuknya AGEs. AGEs bersifat sangat toksik dan merusak semua protein tubuh, termasuk sel syaraf. Akibatnya, sintesis dan fungsi NO menurun, dan mengakibatkan vasodilatasi berkurang, aliran darah ke syaraf menurun, diikuti dengan menurunnya mioinositol dalam sel syaraf. Dengan penurunan ini, terjadilah neuropati diabetik, di mana penderita DB mendapatkan lukanya tidak kunjung sembuh, dan tidak merasa terlalu sakit pada lukanya tersebut (Subekti, 2006).

begitu ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s